Tampilkan postingan dengan label Syaikh Utsaimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syaikh Utsaimin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 April 2017

APABILA AIR MASUK KE DALAM PERUT SAAT BERWUDHU BATALKAN PUASA?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah

[ Pertanyaan ]

Jika seseorang berkumur-kumur atau istinsyaq (mengisap air ke hidung, -pen.), air masuk ke dalam perutnya  apakah hal ini membatalkan puasanya?

[ Jawaban ]

Jika seseorang berkumur-kumur atau istinsyaq dan air masuk ke dalam perutnya, tidaklah hal ini membatalkan puasanya, karena dia tidaklah bersengaja dalam melakukan hal tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):

“Dan tidak ada dosa bagi kalian dalam perkara yang kalian khilaf padanya akan tetapi (yang ada dosanya) adalah yang disengaja oleh hati kalian” [Al Ahzab : 5]

[Fatawa Arkanul Islam]

] السؤال[

إذا تمضمض الصائم، أو استنشق فدخل الماء إلى جوفه هل يفطر بذلك؟

[ الجواب ]

{ إذا تمضمض الصائم، أو أستنشق فدخل الماء إلي جوفه لم يفطر؛ لأنه لم يتعمد ذلك، وقد قال الله تعالى ... { وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ } [الأحزاب: 5] }

[فتاوى أركان الإسلام]

* * *
📲Alih bahasa : Ustadz Abu Khuzaimah Al Fadanji حفظه الله
📝Sumber: Channel Telegram Ma'had Silsilatush Sholihin Padang @SilsilatusSholihin
📮Padang, 8 Ramadhan 1437H ~ 13.06.2016

┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈🕋
IIII مجموعة الأخوة السلفية• MUS IIII

http://bit.ly/ukhuwahsalaf

Selasa, 23 Agustus 2016

APABILA SEORANG WANITA TERMASUK PENGHUNI SURGA SEMENTARA SUAMINYA TIDAK MASUK SURGA, SIAPA YANG AKAN MENJADI PENDAMPINGNYA KELAK ?

_Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah_
*P E R T A N Y A A N*
 "Apabila seorang wanita termasuk penghuni surga sementara ia belum menikah saat di dunia, atau telah menikah namun suaminya tidak masuk surga, siapakah yang akan menjadi pendampingnya kelak ?"

*J A W A B A N*
"Jawabannya diambil dari keumuman firman Allah Ta'ala :

 وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْۤ اَنْفُسُكُمْ وَلَـكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ   ؕ

"... di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta"_ [QS. Fussilat: Ayat 31]

Dan dari firman Allah Ta'ala :

📖 وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الْاَنْفُسُ وَتَلَذُّ  الْاَعْيُنُ ۚ  وَاَنْتُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ۚ

_"...dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya"_ [QS. Az-Zukhruf: Ayat 71]

🌻 Seorang wanita, apabila ia termasuk penghuni surga sedangkan ia belum menikah, atau suaminya bukan termasuk penghuni surga, maka wanita tersebut jika masuk surga di sana ada di antara penghuni surga dari kalangan lelaki yang belum menikah, dan mereka -```maksudku para lelaki penghuni surga yang belum menikah```- bagi mereka itu para istri dari kalangan bidadari, dan bagi mereka para istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau dan jiwa mereka menginginkannya.
👉 Seperti itu pula kita katakan terkait dengan keadaan wanita *apabila belum memiliki suami atau bersuami di dunia tapi tidak masuk surga bersamanya, bahwa jika ia berkeinginan untuk menikah maka ia pasti mendapatkan apa yang diinginkannya*, berdasarkan keumuman ayat-ayat ini"

_______________
📚 ```Majmu' Fatawa Ibni 'Utsaimin (2/52)```

*****
:: http://bit.ly/alistifadah ::
🗃 Arsip WALIS » http://walis-net.blogspot.com/2016/08/apabila-seorang-wanita-termasuk.html
🗳 Kritik dan saran » http://goo.gl/d0M01P
🕰 Faedah Lain » http://walis.salafymedia.com/

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•

📌 إذا كانت المرأة من أهل الجنة ولم يدخل زوجها الجنة فمن يكون لها ؟

◈ سُـــئل فـضـيـلة الشـيـخ /
محمّد بن صالح العثيمين رحمه الله

❍ الســـــــــؤال :
إذا كانت المرأة من أهل الجنة ولم تتزوج في الدنيا ، أو تزوجت ولم يدخل زوجها الجنة فمن يكون لها ؟

❒ الجـــــــــواب :
" الجواب يؤخذ من عموم قوله تعالى : ( وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ) فصلت/31 ، ومن قوله تعالى : ( وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ) الزخرف/71 ، فالمرأة إذا كانت من أهل الجنة ولم تتزوج ، أو كان زوجها ليس من أهل الجنة فإنها إذا دخلت الجنة فهناك من أهل الجنة من لم يتزوجوا من الرجال ، وهم –أعني من لم يتزوجوا من الرجال- لهم زوجات من الحور ، ولهم زوجات من أهل الدنيا إذا شاءوا واشتهت ذلك أنفسهم . وكذلك نقول بالنسبة للمرأة إذا لم تكن ذات زوج ، أو كانت ذات زوج في الدنيا ولكنه لم يدخل معها الجنة أنها إذا اشتهت أن تتزوج فلابد أن يكون لها ما تشتهيه لعموم هذه الآيات " اهـ

🔦انـظـر: [ من مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين (2/52) ] .

•┈┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈┈•
  ✍ قـناة السنّة السلفية
http://cutt.us/WRFgL

•••••••
📲 *Majmu'ah AL ISTIFADAH*
🌍 http://bit.ly/tentangwalis
🔵 Telegram http://bit.ly/alistifadah JOIN
📲 مجموعة الاستفادة
🗓 Jum'at, 16 Dzulqa'dah 1437H / 19 Agustus 2016M

•┈┈┈┈•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•┈┈┈┈•

Rabu, 11 Mei 2016

HUKUM DOA BERJAMAAH DI AKHIR MAJELIS

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah 

 Pertanyaan: Sebagian orang berkumpul untuk mengucapkan dzikir, dan di akhirnya mereka melakukan doa berjamaaah dengan cara salah satu orang berdoa sedangkan yang lainnya mengaminkan. Benarkah hal ini?

 Jawaban: Hal ini benar jika tidak dijadikan adat. Karena jika dijadikan adat maka menjadi sunnah padahal bukan sunnah. Sehingga jika hal ini adat yakni setiap kali bermajelis, mereka tutup dengan doa, maka hal ini perkara yang diadakan alias bidah yang tidak kami mengetahuinya diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Namun jika terkadang dilakukan seperti lewat terhadap mereka ancaman atau memberi motivasi, maka tidak masalah. Karena ada perbedaan antara sesuatu yang sifatnya permanen dan yang sementara. Sesuatu yang sifatnya sementara terkadang dilakukan seseorang dan tidak dicela atasnya. Sebagaimana Ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkadang sebagian sahabat shalat berjamaah bersama Beliau dalam shalat malam, meskipun demikian bukanlah sunnah seseorang shalat berjamaah dalam.shalat malam kecuali kadang-kadang.

 Liqa' al-Bab al-Maftuh 117

 حكم الدعاء الجماعي آخر المجلس السؤال: بعض الناس يجتمعون على حديث ذكر, وفي النهاية يقومون بدعاء جماعي واحد يدعو والبقية يقولون: آمين, هل هذا صحيح؟الجواب: هذا صحيح إذا لم يتخذ عادة, فإن اتخذ عادة صار سنة, وهو ليس بسنة, فإذا كان هذا عادة كلما جلسوا ختموا بالدعاء، فهذا بدعة لا نعلمها عن النبي عليه الصلاة والسلام, وأما إذا كان أحياناً كأن يمر بهم وعيد أو ترغيب ثم يدعون الله عز وجل فلا بأس, لأنه فرق بين الشيء الراتب والعارض, العارض قد يفعله الإنسان أحياناً ولا يلام عليه, كما كان الرسول عليه الصلاة والسلام أحياناً يصلي معه بعض الصحابة في صلاة الليل جماعة, ومع ذلك ليس بسنة أن يصلي الإنسان جماعة في صلاة الليل إلا أحياناً.

Minggu, 01 Mei 2016

GERAKAN DALAM SHALAT ADA LIMA MACAM

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah

 Pertanyaan:
 Kami mohon--yang mulia--penjelasan hukum gerakan dalam shalat? 

 Jawaban: Hukum asal bergerak (di luar gerakan shalat) adalah terlarang kecuali jika ada hajat (kebutuhan). Namun perlu diketahui bahwa gerakan dalam shalat (di luar gerakan shalat) itu ada lima macam: 
 1. Gerakan yang diwajibkan. 
2. Gerakan yang diharamkan.
3. Gerakan yang dimakruhkan. 
4. Gerakan yang disunnahkan.
5. Gerakan yang hukumnya mubah (boleh saja).

 ➡Adapun gerakan yang diwajibkan adalah gerakan yang menjadi sahnya shalat, misalnya adalah ketika seorang yang sedang shalat memperhatikan di penutup kepalanya ada najis, maka ia bergerak untuk memindahkannya dan ia melepas penutup kepalanya tersebut. Hal ini sebagaimana pernah terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datang malaikat Jibril sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan shalat berjama’ah dengan yang lainnya. Lalu Jibril memberitahukan bahwa di sendal beliau ada najis. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencopotnya sedangkan beliau shalat dan beliau terus melanjutkan shalatnya. (HR. Abu Daud no. 650. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ 284) Contoh lainnya adalah ketika seseorang salah menghadap kiblat lalu ada yang mengingatkan, maka ia harus berpaling atau memutar badannya ke arah kiblat. Gerakan ini adalah wajib. 

 ➡Gerakan yang diharamkan adalah gerakan yang memenuhi tiga syarat:
(1) gerakannya banyak, 
(2) berturut-turut, dan 
(3) dilakukan bukan dalam keadaan darurat.
 Gerakan semacam ini adalah gerakan yang membatalkan shalat karena tidak boleh dilakukan saat itu. Perbuatan semacam ini termasuk mempermainkan ayat-ayat Allah. 

 ➡Gerakan yang disunnahkan adalah gerakan untuk melakukan perbuatan yang hukumnya sunnah dalam shalat. Seperti misalnya seseorang ketika shalat bergerak untuk meluruskan shaf. Atau ia melihat ada tempat yang kosong di depannya, lalu ia bergerak maju ke depan untuk mengisi kekosongan. Perbuatan ini termasuk sunnah dalam shalat karena dalam rangka menyempurnakan shalat. Dalil dari hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, ia berdiri di sebelah kiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menarik kepala Ibnu ‘Abbas dari belakangnya dan menjadikannya di sebelah kanan beliau. (Hadits Muttafaqun ‘alaih) 

 ➡Gerakan yang dikatakan mubah (boleh) adalah gerakan yang sedikit karena ada hajat (butuh) atau gerakan yang banyak karena darurat. Contoh gerakan yang sedikit karena ada hajat adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat sambil menggending Umamah binti Abil ‘Ash, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Zainab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kakeknya dari ibunya. Ketika itu beliau berdiri sambil menggendongnya dan ketika sujud beliau meletakknya. (HR. Bukhari no. 5996 dan Muslim no. 543) 

 ➡Adapun gerakan yang mubah, banyak dan dalam kondisi darurat, contohnya adalah shalat dalam keadaan perang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ* فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ 


 “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. kemudian apabila kamu telah aman, Maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 238-239)
 Shalat ketika perang itu bisa sambil berjalan. Orang yang shalat seperti ini tentu gerakannya banyak, namun seperti itu dibolehkan karena darurat.


➡Gerakan yang dimakruhkan adalah gerakan selain yang disebutkan di atas, yaitu hukum asal gerakan (di luar gerakan shalat), adalah d imakruhkan. Oleh karena itu, kita katakan pada orang yang bergerak sana-sini dalam shalat, gerakannya itu makruh, mengurangi kesempurnaan shalat. Jadi jika ada yang melihat-lihat jam, menggaruk-garuk kepalanya, memegang hidungnya, menyentuh-nyentuh jenggotnya, atau semisal itu, ini asalnya hukumnya makruh. Kecuali jika gerakan tersebut terlampau banyak dan berturut-turut, maka itu bisa jadi membatalkan shalat.

  Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, 13/309-311]

 💻🔍 http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=130875

 http://bit.ly/Al-Ukhuwwah 

 السؤال: نرجو من فضيلتكم بيان حكم الحركة في الصلاة؟ الإجابة: الحركة في الصلاة الأصل فيها الكراهة إلا لحاجة، ومع ذلك فإنها تنقسم إلى خمسة أقسام: . القسم الأول: حركة واجبة. . القسم الثاني: حركة محرمة. . القسم الثالث: حركة مكروهة. . القسم الرابع: حركة مستحبة. . القسم الخامس: حركة مباحة. فأما الحركة الواجبة: فهي التي تتوقف عليها صحة الصلاة، مثل أن يرى في غترته نجاسة، فيجب عليه أن يتحرك لإزالتها ويخلع غترته، وذلك لأن النبي صلى الله عليه وسلم أتاه جبريل وهو يصلي بالناس فأخبره أن في نعليه خبثاً فخلعها صلى الله عليه وسلم وهو في صلاته واستمر فيها، ومثل أن يخبره أحد بأنه اتجه إلى غير القبلة فيجب عليه أن يتحرك إلى القبلة. وأما الحركة المحرمة: فهي الحركة الكثيرة المتوالية لغير ضرورة؛ لأن مثل هذه الحركة تبطل الصلاة، وما يبطل الصلاة فإنه لا يحل فعله؛ لأنه من باب اتخاذ آيات الله هزواً. وأما الحركة المستحبة: فهي الحركة لفعل مستحب في الصلاة، كما لو تحرك من أجل استواء الصف، أو رأى فرجة أمامه في الصف المقدم فتقدم نحوها وهو في صلاته، أو تقلص الصف فتحرك لسد الخلل، أو ما أشبه ذلك من الحركات التي يحصل بها فعل مستحب في الصلاة؛ لأن ذلك من أجل إكمال الصلاة، ولهذا لما صلى ابن عباس رضي الله عنهما مع النبي صلى الله عليه وسلم فقام عن يساره أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم برأسه من ورائه فجعله عن يمينه. وأما الحركة المباحة: فهي اليسيرة لحاجة، أو الكثيرة للضرورة، أما اليسيرة لحاجة فمثلها فعل النبي صلى الله عليه وسلم حين كان يصلي وهو حامل أمامه بنت زينت بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو جدها من أمها فإذا قام حملها، وإذا سجد وضعها. وأما الحركة الكثيرة للضرورة: فمثل قوله تعالى: {حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ* فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ}، فإن من يصلي وهو يمشي لا شك أن عمله كثير ولكنه لما كان للضرورة كان مباحاً لا يبطل الصلاة. وأما الحركة المكروهة: فهي ما عدا ذلك وهو الأصل في الحركة في الصلاة، وعلى هذا نقول لمن يتحركون في الصلاة إن عملكم مكروه، منقص لصلاتكم، وهذا مشاهد عند كل أحد فتجد الفرد يعبث بساعته، أو بقلمه، أو بغترته، أو بأنفه، أو بلحيته، أو ما أشبه ذلك، وكل ذلك من القسم المكروه إلا أن يكون كثيراً متوالياً فإنه محرم مبطل للصلاة. ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ مجموع فتاوى ورسائل الشيخ محمد صالح العثيمين - المجلد الثالث عشر - كتاب الحركة في الصلاة